Rabu, 22 Oktober 2014

HIJRAH KARENA ALLAH SWT





RAHASIA HIJRAH

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharpakn rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang mujairin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni;mat) yang mulia. (Qs. Al-An’fal, 8:74)
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (Qs. At-Taubah, 9:20)

 Muqaddimah
Setiap kali memasuki tahun baru hijriyah kita selalu diingatkan  pada peristiwa besar dan bersejarah, yaitu hijrahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Makkah al Mukarramah menuju Yatsrib yang kemudian dirubah namanya dengan al Madinah al Muawwarah. Sebab peristiwa hijrah adalah awal kejayaan Islam, berawal dari sinilah Islam menyebar dan meluas ke seluruh penjuru dunia. Mulai dari  peristiwa inilah Rasulullah mulai meletakkan dasar-dasar bermasyarakat dan bernegara. Sehingga pada hari ini bentuk negara dan masyarakat yang dibangun nabi tersebut menjadi percontohan bagi masyarakat yang modern dan beradab.
Peristiwa hijrah dimulai ketika Islam mulai menyebar luas di Madinah, maka para sahabat Nabi yang senantiasa mendapat perlakuan tidak baik dari orang-orang musyrik, mereka meminta izin kepada nabi untuk hijrah ke Madinah. Kemudian Nabi memberi izin pada mereka untuk hijrah, sehingga secara berangsur-angsur dan bergelombang umat Islam berangkat berhijrah ke madinah. Orang yang pertama kali hijrah adalah Abu Salamah saudara Nabi sesusuan. Sehingga kemudian orang yang tinggal di Makkah tersisa Rasulullah, Abu Bakar as Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib al Murtadha, orang yang dipenjara dan orang yang sakit.
Tahun Hiriyah, ditetapkan pertama kali oleh Khalifah Umar bin Khatab ra, sebagai jawaban atau surat Wali Abu Musa Al-As’ari. Khalifah Umar menetapkan Tahun Hijriyah Kalender Tahun Gajah, Kalender Persia untuk menggantikan penanggalan yang digunakan bangsa Arab sebelumnya, seperti yang berasal dari tahun Gajah, Kalender Persia, Kalender Romawi dan kalender-kalendar lain yang berasal dari tahun peristiwa-peristiwa besar Jahiliyah. Khlifah Umar memilih peristiwa Hijrah sebagai  taqwim Islam, karena Hijrah Rasulullah aw dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah merupakan peristiwa paling monumental dalam perkembangan dakwah.
Ayat - Hadits Hijrah dan Jihad

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia.” (Q.S. Al-Anfal: 74)
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberi rahmat-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Q.S. At-Taubah: 20-22)
“Dan orang-orang yang berjihad (untuk mencari keridhaan) Kami. benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah swt. benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-‘Ankabut: 69)
Dari Abu Qirshafah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Wahai manusia! Berhijrahlah kalian dan berpegang teguhlah pada Islam. Karena hijrah tidak akan pernah berhenti selama jihad masih ada.” (H.R. Thabrani, Majma’uz-Zawa’id)
Mu’adz bin Jabal r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Kabar gembira bagi seseorang yang banyak berdzikir kepada Allah ketika sedang keluar di jalan Allah, karena setiap kalimat akan dibalas 70.000 kebaikan, dan setiap kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya hingga 10 kali lipat, dan selain itu dia juga akan mendapat tambahan dari Allah.” Rasulullah saw. ditanya seseorang, “Ya Rasulullah! Bagaimana kalau bersedekah?” Beliau menjawab, “Pahala bersedekah juga seperti itu.” (hayathus shahabah. terj jilid 1, bab Jihad-Pahala infaq dalam jihad fi sabilillah: 557)
Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Apabila umatku sudah mengagungkan dunia, maka tercabutlah dari mereka kehebatan Islam. Dan apabila umatku meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, maka diharamkan bagi mereka keberkahan wahyu. Dan apabila umatku saling mencaci maki satu sama lain, maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah swt..” (H.r. Hakim dan Tarmidzi)
Dari ‘Aisyah r.ha., ia berkata. “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Jika debu fi sabilillah bercampur dengan hati seorang Muslim, niscaya Allah ‘azza wa jalla akan mengharamkan neraka atasnya.'” (H.r. Ahmad dan Thabarani, Majma’uz-Zawa’id)
Dari Ubadah bin Ash-Shamit ra., bahwasanya seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkan aku untuk mengembara.” Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya pengembaraan (Wisata) umatku adalah jihad fi sabilillah ‘azza wa jalla.” (HR. Abu Dawud)
Makna Hijrah
Hijrah sebagai salah satu prinsip hidup, harus senantiasa kita maknai dengan benar. Secara bahasa hijrah berarti meninggalkan. Seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi 2 syarat, yaitu, yaitu yang pertama ada sesuatu yang ditinggalkan dan kedua ada sesuatu yang dituju (tujuan). Kedua-duanya ahrus dipenuhi oleh seorang yang berhijrah. Meninggalkan segala hal yang buruk, negative, maksiat, kondisi yang tidak kondisif, menju keadaan yang lebih yang lebih baik, positif dan kondisi yang kondusif untuk menegakkan ajaran Islam.
Dalam realitas sejarah hijrah senantiasa dikaitkan dengan meninggalkan suatu tempat, yaitu adanya peristiwa hijrah Nabi dan para sahabat meninggalkan tepat yang tidak kondisuf untuk berdakwah. Bahkan peristiwa hijrah itulah yang dijadikan dasar umat Islam sebagai permulaan ahun Hijriyah.
Keutamaan Islam dibangun atas tiga prinsip dasar; Iman-Hijrah-Jihad. Tanpa ketiganya, kaum muslimin tidak akan menjadi mulia. Dan tidak ada jalan lain untuk menjadi mulia, kecuali dengan mengamalkannya. Setiap orang yang menerima Islam akan menapaki kesempurnaan ini.
Hijrah dan I`dad adalah Dua Fardhu yang Tanpa Disertai Syarat [h.14] Matinya seorang Muhajir Itu Bernilai Syahid [h.20] Dimana pun dan oleh sebab apapun. Dan diantara keutamaan-keutamaan orang yang berhijrah adalah balasan Alloh di dunia, berupa tempat tinggal dan rezki yang baik.
“dan orang-orang yang berhijrah karena Alloh sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia” [Q.S. An-Nahl:41]
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, yang berhijrah dan yang berjihad fie sabili-LlaH, mereka itu mengharapkan rahmat Alloh…” [Al-Baqoroh:218]
Menurut Abdullah Azzam, Hijrah itu ada dua, dan keduanya adalah wajib! Hijrah kepada Alloh berarti hijrah kepada Kitab-Nya, Hukum-Nya, dan Sifat-Nya.[h.51] dan Hijrah kepada Rosul yakni dengan menjadikannya sebagai uswah hasanah. Dan lebih mencintai Rosululloh dari manusia seluruhnya [h.52]
Jihad harus didahului dengan hijrah. Sedangkan hijrah adalah perkara yg paling sulit bagi jiwa manusia. [h.53] Karena berpisah dengan tempat dan kenangan masalalunya, yang mana hal ini diserupakan dengan membunuh jiwa manusia (An-Nisa`: 66). Demikian I`dad, keduanya ibarat sholat dan wudlu. Tidak sah Jihad tanpa Hijrah dan I`dad.
Peristiwa dalam ‘Asyura
Sebagaimana telah disinggung di awal pembahasan bahwa pada hari 'Asyura terjadi banyak peristiwa bersejarah. Peristiwa bersejarah yang dimaksud antara lain:
1. Allah menerima taubat nabi Adam alayhissalam dari maksiat yang dilakukannya (makan buah pohon yang terlarang baginya). Perlu diketahui bahwa dosa yang dilakukan oleh Nabi Adam alayhissalam adalah dosa kecil yang tidak ada unsur kerendahan jiwa, dosa yang dilakukan Nabi Adam bukanlah dosa besar apalagi kufur, karena mustahil bagi Rasul melakukan kufur atau dosa besar.
2.  Allah ta'aala menyelamatkan Musa alayhissalam dan para pengikutnya dari tenggelam di laut, sebaliknya menenggelamkan Fir'aun dan bala tentaranya di laut.
3. Allah menyelamatkan perahu Nabi Nuh alayhissalam dan orang-orang mukmin yang mengikutinya. Perahu itu berlabuh di sebuah gunung di Irak yang bernama "al-Judi" setelah berada di atas air bah selama 150 hari.
4. Perang Dzaturriqa', perang Dzaturriqa' terjadi pada tanggal 10 Muharram 4 Hijriyyah. Pada perang ini Rasulullah bertindak sebagai panglima tertinggi disertai 700 orang sahabatnya, sedangkan kaum musyrikin jumlahnya jauh lebih besar. Namun demikian sebelum sempat terjadi pertempuran antara tentara Islam dan musyrikin, Allah ta'ala menciptakan rasa takut yang luar biasa pada kaum musyrikin, sehingga mereka lari tunggang langgang sebelum bertempur.
5. Gugur (syahid) nya al-Husain bin Ali radliyallahu anhu, peristiwa memilukan ini terjadi pada hari Jum'at 10 Muharram tahun 61 Hijriyyah, beliau syahid ditangan orang dzalim. Kejadian ini sangat memilukan, menyedihkan dan merupakan musibah yang sangat besar bagi kaum muslimin. Beliau adalah putra Ali dan Fatimah rodliyallahu anhuma cucu Rasulullah yang sangat mirip dengan beliau baik fisik maupun akhlaknya. Al-Husain bin Ali adalah seorang pemimpin yang sholeh, bertaqwa, wara' dan zahid. Mengenai keutamaan beliau dan saudaranya (al-Hasan bin Ali) Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda:
الحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ الْجَنَّةِ

Maknanya: "al-Hasan dan al-Husain adalah sayyid (pemimpin) para pemuda di surga". (HR. Tirmidzi).

Keutamaan Bulan Muharram
Momentum Muharram sungguh sangat berharga untuk kita lewatkan, olehnya mari kita sejenak mengkaji Keutamaan Bulan Muharram yang disebutkan dalam Al-Quran maupun Al-Hadits. Diantara keuatamaan bulan Muharram adalah:
(1) Bulan Muharam merupakan salah satu bulan haram. Allah SWT berfirman :
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, (QS. At-Taubah : 36)
Dalam ayat di atas disebutkan bahwa ada dua belas : mulai dari bulan Muharam yang insya Allah akan tiba besuk malam, hingga bulan Dzulhijjah. Diantara dua belas bulan itu ada empat bulan haram yaitu bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab.
Dalam menafsirkan ayat ini, Imam At-Thabari dalam Tafsirnya mengutip atsar dari Ibnu Abbas r.a. : "Allah menjadikan bulan-bulan ini sebagai bulan-bulan suci, mengagungkan kehormatannya dan menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan ini menjadi lebih besar dan menjadikan amal shalih pada bulan ini juga lebih besar."
(2) Keutamaan kedua dari bulan Muharam adalah nilai historis bulan ini sebagai bulan hijrah.
Karena itulah, ketika Umar bin Khatab hendak menentukan tahun baru Islam, beliau memilih Muharam sebagai bulan pertama. Hijrah yang diambil sebagai titik tolak peradaban Islam. Maka kalender Islam pun disebut sebagai kalender hijriyah.
Lalu bagaimana kita mengambil ibrah dari peristiwa hijrah yang terjadi pada bulan Muharam 1433 tahun yang lalu? Sedangkan Rasulullah telah mensabdakan,
لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ
Tidak ada hijrah setelah futuhnya Makkah (HR. Bukhari)
Perlu diketahui, bahwa maksud hadits Rasulullah SAW itu adalah, tidak lagi wajib hijrah dari Makkah ke Madinah setelah futuhnya Makkah. Karena tidak ada kewajiban untuk hijrah dari negeri Muslim.
Hijrah yang dituntut Islam bagi ummatnya adalah hijrah maknawi, semangat hijrah seperti sabda Rasulullah SAW:
الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
"Muhajir adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah." (HR. Bukhari)
(3) Kemuliaan ketiga dari bulan Muharam adalah, disunnahkannya puasa tasu'a dan ayura pada bulan itu.
Bahkan puasa tasu'a dan asyura serta puasa sunnah lainnya (senin kamis, ayamul bidh, puasa daud), nilainya menjadi puasa yang paling mulia setelah Ramadhan.
Rasulullah SAW bersabda :
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
Puasa yang paling mulia setelah puasa Ramadhan adalah (berpuasa) di bulan Allah, Muharam. (HR. Muslim)
Secara khusus, Rasulullah SAW menyebutkan keutamaan puasa asyura dalam sabdanya :
سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
Rasulullah ditanya mengenai puasa asyura, beliau menjawab, "ia bisa menghapus dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim)
Sedangkan mengenai puasa tasu'a, Rasulullah berazam untuk menjalankannya, meskipun beliau tidak sempat menunaikan karena wafat sebelum Muharam tiba. Lalu para sahabatnya menjalankan puasa tasu'a seperti keinginan Rasulullah SAW :
إذا كان العام المقبل صمنا يوم التاسع
Apabila tahun depan (kita masih diberi umur panjang), kita akan berpuasa pada hari tasu'a (kesemblan). (HR. As-Suyuthi dari Ibnu Abbas, dishahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami')
Hikmah Puasa dalam bulan Muharram
Diantara hikmah disunnahkannya puasa Tasu'a menyertai 'Asyura adalah:
1. Untuk berhati-hati, karena ada kemungkinan salah dalam menetapkan awal Muharram.
2.   Supaya berbeda dengan orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa 'Asyura tanpa Tasu'a.
3. Agar puasa itu tidak hanya dilakukan pada satu hari itu saja sebagaimana puasa pada hari jum'at (makruh hukumnya mengkhususkan hari jum'at untuk berpuasa, tanpa didahului puasa pada hari sebelumnya atau diikuti puasa pada hari setelahnya), sehingga apabila seseorang tidak bisa berpuasa pada hari Tasu'a maka hendaknya ia berpuasa pada hari setelahnya (11 Muharram).
Bahkan Imam Syafi'i radliyallahu anhu dalam kitabnya "al-Umm" dan "al-Imla" menetapkan kesunnahan puasa tiga hari sekaligus (tanggal 9,10 dan 11 Muharram).
Demikian sebagian dari keutamaan bulan Muharam, semoga kita dimudahkan Allah SWT untuk mengambil ibrah dan menggapai keutamaan itu.
JAKARTA 23/10/2014
Baca Selengkapnya »»  

Selasa, 21 Oktober 2014

1 MUHARRAM:PERSATUAN UMMAT




HIJRAH MOMENTUM EVALUASI DIRI
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal [8]: 74).
Muqaddimah
Tahun baru Islam, 1 Muharram 1436 Hijriah, adalah momen tepat bagi segenap kaum Muslim untuk memperbaiki diri dan hijrah menuju kebaikan sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Tahun baru hijriyah menjadi momentum evaluasi diri untuk menuju kebaikan, hijrah mempunyai arti “menghindari” dan juga di artikan meninggalkan tempat asal, dengan maksud menghindari adalah semangat untuk menghindari dari kedzoliman, dengan ini di tahun baru islam awali semuanya dengan niatan yang baik karna janji Allah akan memudahkan apa yang diniatkan.
Nabi Muhammad SAW yang melakukan hijrah dari satu tempat ke tempat yang lain yakni dari mekah ke madinah dalam menyebarkan kebaikan manjadikan momen ini titik balik kaum muslim untuk selalu hijrah dalam kebaikan. Satu Muharram, yang tahun ini jatuh pada Selasa, 5 November 2013, merupakan bulan pertama dalam kalender Islam yang menandai pergantian tahun Hijriah. Momen ini menjadi penting karena Nabi Muhammad mendapatkan keberhasilan dalam dakwahnya pada bulan Muharram,
Muharram berasal dari kata yang dalam Bahasa Indonesia artinya ‘diharamkan’ atau ‘dipantang’ yaitu dilarang melakukan peperangan atau pertumpahan darah. Makna tersebut menandakan bahwa bulan Muharram akan menjadi bulan yang damai bagi seluruh umat.
Momen tahun baru Islam merupakan sarana untuk memperkokoh ukhuwah Islamiah (persaudaraan) sehingga dapat menghindari perpecahan dan perbedaan pemahaman sesama umat Islam.  Kedatangan bulan Muharram juga menandai kebahagiaan bagi kaum dhuafa. Pada bulan ini umat Islam disunnahkan untuk memperbanyak sedekah dan menyantuni anak yatim.
Makna Hijrah
Secara umum, hijrah mengandung spirit reformasi. Dan reformasi tersebut dibagi menjadi tiga fase yaitu reformasi individual (spiritual-moral), reformasi sosio-kultural, dan reformasi struktural. Peristiwa hijrah dapat dijadikan contoh yang sangat konkrit dan praktis. Selama kurang lebih 13 tahun Rasulullah SAW telah mengadakan reformasi individual dalam masyarakat Quraisy. Para sahabatnya yang tersentuh dakwah Rasulullah SAW segera mengadakan hijrah baik secara spiritual maupun moral. Mereka meninggalkan kekufuran dan kejahiliyahan lalu menggantinya dengan keimanan dan akhlaq Islamiyah. Reformasi individual-spiritul-moral ini mendorong terjadinya reformasi sosio-kultural, karena manusia yang telah melakukan reformasi individual mau tidak mau akan mereformasi tatanan kehidupan sosialnya.
Secara bahasa, hijrah artinya berpindah. Sementara itu dalam konteks sejarah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad bersama para sahabat dari Makkah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syari’at Islam.
Hijrah Menurut Istilah
Hijrah menurut istilah berarti ”tarku maa nahallaahu ’anhu” (meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah swt).
Oleh karena itulah pengertian hijrah yang harus senantiasa ada dalam diri setiap muslim adalah pengertian hijrah Maknawi.
Adapun pengertian hijrah secara maknawi dapat disimpulkan :
1. Meninggalkan kejahilian menuju kepada nilai Islam
2. Meninggalkan kekafiran menuju iman kepada Allah swt
3. Meninggalkan kesyirikan menuju tauhid, mengesankan Allah
4. Meninggalkan kebatilan menuju yang hak, kebenaran Islam
5. Meninggalkan perbuatan maksiat menuju perbuatan ketaatan kepada Allah
6. Meninggalakan sesuatu yang haram menuju sesuatu yang halal
Meski demikian, dalam keadaan kondisi orang Islam berada dalam lingkungan yang mengaharuskannya melakukan hijrah fisik.
Implementasi Hijrah dalam kehidupan
Semua peristiwa hijrah ini kemudian dirumuskan menjadi sebuah sikap umat dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan dalam bentuk :
1. Meluruskan Niat
“Al-Muhajaroh” (Hijrah) sebagaimana dikatakan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah keluar dari negeri kafir kepada negeri iman, sebagaimana para sahabat yang berhijrah dari Makkah ke Madinah.Dan Hijrah di jalan Allah itu, sebagaimana dikatakan oleh Muhammad Rasyid Ridho, harus dengan sebenar-benarnya.Artinya orang yang berhijrah dari negerinya adalah untuk mendapatkan ridho Allah dengan menegakkan agama-Nya yang merupakan kewajiban baginya, dan merupakan sesuatu yang dicintai Allah.Dalam sejarah, ada seorang sahabat yang berhijrah karena ingin menikahi ummu Qois, bukan karena niat ikhlas taat kepada Allah dan Rosulnya. Maka Rosulullah saw bersabda, “Bahwasannya semua amal itu tergantung niatnya, dan bahwasannya apa yang diperoleh seseorang adalah sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrah karena Allah dan Rosulnya maka hijrahnya itu akan diterima oleh Allah dan Rosulnya, dan barang siapa yang hijrahnya, karena mencari dunia atau karena wanita yang akan nikahinya maka hijrahnya itu hanya memperoleh apa yang diniatkannya dalam hijrahnya itu. (HR Bukhori dan Muslim).Hikmah yang harus kita ambil adalah bahwa segala aktifitas ibadah, dakwah dan bermasyarakat kita hanya semata-mata karena Allah, bukan karena yang lain, yaitu karena duniawi atau materi saja,sehingga kita akan bersungguh-sungguh dalam hidup dan kehidupan ini.
2.   Meningkatkan Ketaatan kepada Allah swt dan Rasulullah saw
Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 97 yang berbunyi :
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam Keadaan Menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya : "Dalam Keadaan bagaimana kamu ini?". mereka menjawab: "Adalah Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para Malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?".orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,
Ayat diatas turun sehubungan dengan kasus lima orang pemuda muslim yang bergabung dengan kafir Makkah, lalu mati mengenaskan di perang badar oleh pasukan kaum muslimin.
3. Yakin dengan Pertolongan Allah swt.
Hijrah adalah rancangan dan strategi untuk melanjutkan perjuangan Dakwah Islam. Allah swt berfirman dalam surat Al-Anfal ayat 74 yang berbunyi :
Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman.mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.
Perjuangan yang dilalui Rosulullah dan para sahabat di Makkah tidaklah mulus dan ringan, tetapi jalan itu penuh onak dan duri, dan sangat berat sekali.Beliau dan kaum mukminin menerima berbagai cobaan, cercaan, teror, penyiksaan, propapaganda dan pembunuhan.Hal ini tidak hanya menimpa diri rosulullah, tetapi juga para sahabatnya. Kita tahu, kisah Bilal, keluarga Yasir (Yasir, Sumayah, Ammar bin Yasir), Abu Fakihah (budak Bani Abdid-Dar), Khabab bin Al-Art (budak Ummu Umar), dll.
4.   Memperkokoh Persaudaraan dan Persatuan
Berkenaan dengan peristiwa hijrah, rosulullah juga berhasil mempersatukan suku Aus dan Suku Kahraj yang sebelumnya saling bermusuhan. Mereka dipersatukan dengan dasar aqidah islam. Rosulullah juga mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshor. Persaudaraan ini semata-mata berdasarkan aqidah yang sama. Langkah ini untuk menegaskan, bahwa ikatan persatuan dan persaudaraan kaum muslimin haruslah berdasarkan aqidah, bukan berdasarkan kesukuan, kedaerahan, kemaslahatan, kebangsaan dan sebagainya yang bermuara pada ikatan kejahiliyahan.
Makna persaudaraan ini menurut Muahmmad Al-Ghazaly, agar fanatisme Jahiliyah menjadi cair dan tidak ada sesuatu yang dibela kecuali Islam.Disamping itu, agar perbedaan-perbedaan keturunan, warna kulit dan daerah tidak mendominasi, agar seseorang tidak merasa lebih unggul dan merasa lebih rendah kecuali karena ketaqwaanya.
5.  Mengoptimalkan Fungsi dan Peran Masjid
Langkah pertama yang dilakukan rosulullah adalah membangun masjid, Masjid yang dibangun bukan sekedar sebagai tempat sholat semata, tetapi juga sebagai madrasah tempat transfer ilmu dan bimbingan, sebagai balai pertemuan, tempat pelayanan social kemasyarakatan, pemberdayaan ekonomi umat dll, yang mencerminkan peran dan fusngsi masjid sesungguhnya. Maka unsure terpenting dari itu semua adalah pengurus dan jama’ah dalam arti pengurus berberan aktif menjalankan tugas dan amanahnya sebagai pengurus sesuai dengan kapasitasnya, dan jama’ah juga berperan aktif dalam pemakmuran masjid dalam bentuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh pengurus masjid dan bantuan dana.
Mereka yang berhijrah kala itu adalah Muslim yang tidak lagi memiliki tujuan apa-apa selain daripada rahmat Allah Ta’ala.
Hakekat Hijrah
Dalam hadith Nabi wa al-hijratu man hājara mā nahāhu Allah ‘anhu” dan disebut hijrah adalah berpindah dari apa-apa yang dilarang Allah terhadap manusia. Atau sebagaimana disinyalir oleh Iqbal dalam masterpiece puisinya “ berhenti, tak ada tempat di jalan ini. Sikap lamban berarti mati. Mereka yang bergerak, merekalah yang maju ke depan. Mereka yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas”. Maka noothing to loose, memaknai subtansi hijrah pada hakikatnya bercermin pada diri sendiri serta memaknai hidup dengan penuh motivasi dan idealisme.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah [2]: 218).
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. At-Taubah [9]: 20).
Momentum hijrah mampu memberi spirit yang menggedor kesadaran kita, guna mengisi kalbu dan mengasah reformasi sosial spiritual dalam jiwa kita, sehingga mampu melangkah dalam hidup ini menjadi lebih tegap, optimis, dinamis, dan produktif dari hari-hari sebelumnya. Dan tidak kalah penting hijrah dipandang sebagai starting point bagi bangsa kita untuk melakukan reformasi total untuk meluruskan arah dan membangun bangsa dari keterpurukan dan krisis multi dimensi ini. Karena hakekat hijrah merupakan transformasi dan reformasi sosial guna mampu melakukan yang terbaik dalam kehidupan personal maupun komunal dengan dinamika hidup secara optimal.Wallahu A’lam Bishowab
JAKARTA 22/10/2014
Baca Selengkapnya »»