Selasa, 21 Oktober 2014

1 MUHARRAM:PERSATUAN UMMAT




HIJRAH MOMENTUM EVALUASI DIRI
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal [8]: 74).
Muqaddimah
Tahun baru Islam, 1 Muharram 1436 Hijriah, adalah momen tepat bagi segenap kaum Muslim untuk memperbaiki diri dan hijrah menuju kebaikan sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Tahun baru hijriyah menjadi momentum evaluasi diri untuk menuju kebaikan, hijrah mempunyai arti “menghindari” dan juga di artikan meninggalkan tempat asal, dengan maksud menghindari adalah semangat untuk menghindari dari kedzoliman, dengan ini di tahun baru islam awali semuanya dengan niatan yang baik karna janji Allah akan memudahkan apa yang diniatkan.
Nabi Muhammad SAW yang melakukan hijrah dari satu tempat ke tempat yang lain yakni dari mekah ke madinah dalam menyebarkan kebaikan manjadikan momen ini titik balik kaum muslim untuk selalu hijrah dalam kebaikan. Satu Muharram, yang tahun ini jatuh pada Selasa, 5 November 2013, merupakan bulan pertama dalam kalender Islam yang menandai pergantian tahun Hijriah. Momen ini menjadi penting karena Nabi Muhammad mendapatkan keberhasilan dalam dakwahnya pada bulan Muharram,
Muharram berasal dari kata yang dalam Bahasa Indonesia artinya ‘diharamkan’ atau ‘dipantang’ yaitu dilarang melakukan peperangan atau pertumpahan darah. Makna tersebut menandakan bahwa bulan Muharram akan menjadi bulan yang damai bagi seluruh umat.
Momen tahun baru Islam merupakan sarana untuk memperkokoh ukhuwah Islamiah (persaudaraan) sehingga dapat menghindari perpecahan dan perbedaan pemahaman sesama umat Islam.  Kedatangan bulan Muharram juga menandai kebahagiaan bagi kaum dhuafa. Pada bulan ini umat Islam disunnahkan untuk memperbanyak sedekah dan menyantuni anak yatim.
Makna Hijrah
Secara umum, hijrah mengandung spirit reformasi. Dan reformasi tersebut dibagi menjadi tiga fase yaitu reformasi individual (spiritual-moral), reformasi sosio-kultural, dan reformasi struktural. Peristiwa hijrah dapat dijadikan contoh yang sangat konkrit dan praktis. Selama kurang lebih 13 tahun Rasulullah SAW telah mengadakan reformasi individual dalam masyarakat Quraisy. Para sahabatnya yang tersentuh dakwah Rasulullah SAW segera mengadakan hijrah baik secara spiritual maupun moral. Mereka meninggalkan kekufuran dan kejahiliyahan lalu menggantinya dengan keimanan dan akhlaq Islamiyah. Reformasi individual-spiritul-moral ini mendorong terjadinya reformasi sosio-kultural, karena manusia yang telah melakukan reformasi individual mau tidak mau akan mereformasi tatanan kehidupan sosialnya.
Secara bahasa, hijrah artinya berpindah. Sementara itu dalam konteks sejarah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad bersama para sahabat dari Makkah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syari’at Islam.
Hijrah Menurut Istilah
Hijrah menurut istilah berarti ”tarku maa nahallaahu ’anhu” (meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah swt).
Oleh karena itulah pengertian hijrah yang harus senantiasa ada dalam diri setiap muslim adalah pengertian hijrah Maknawi.
Adapun pengertian hijrah secara maknawi dapat disimpulkan :
1. Meninggalkan kejahilian menuju kepada nilai Islam
2. Meninggalkan kekafiran menuju iman kepada Allah swt
3. Meninggalkan kesyirikan menuju tauhid, mengesankan Allah
4. Meninggalkan kebatilan menuju yang hak, kebenaran Islam
5. Meninggalkan perbuatan maksiat menuju perbuatan ketaatan kepada Allah
6. Meninggalakan sesuatu yang haram menuju sesuatu yang halal
Meski demikian, dalam keadaan kondisi orang Islam berada dalam lingkungan yang mengaharuskannya melakukan hijrah fisik.
Implementasi Hijrah dalam kehidupan
Semua peristiwa hijrah ini kemudian dirumuskan menjadi sebuah sikap umat dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan dalam bentuk :
1. Meluruskan Niat
“Al-Muhajaroh” (Hijrah) sebagaimana dikatakan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah keluar dari negeri kafir kepada negeri iman, sebagaimana para sahabat yang berhijrah dari Makkah ke Madinah.Dan Hijrah di jalan Allah itu, sebagaimana dikatakan oleh Muhammad Rasyid Ridho, harus dengan sebenar-benarnya.Artinya orang yang berhijrah dari negerinya adalah untuk mendapatkan ridho Allah dengan menegakkan agama-Nya yang merupakan kewajiban baginya, dan merupakan sesuatu yang dicintai Allah.Dalam sejarah, ada seorang sahabat yang berhijrah karena ingin menikahi ummu Qois, bukan karena niat ikhlas taat kepada Allah dan Rosulnya. Maka Rosulullah saw bersabda, “Bahwasannya semua amal itu tergantung niatnya, dan bahwasannya apa yang diperoleh seseorang adalah sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrah karena Allah dan Rosulnya maka hijrahnya itu akan diterima oleh Allah dan Rosulnya, dan barang siapa yang hijrahnya, karena mencari dunia atau karena wanita yang akan nikahinya maka hijrahnya itu hanya memperoleh apa yang diniatkannya dalam hijrahnya itu. (HR Bukhori dan Muslim).Hikmah yang harus kita ambil adalah bahwa segala aktifitas ibadah, dakwah dan bermasyarakat kita hanya semata-mata karena Allah, bukan karena yang lain, yaitu karena duniawi atau materi saja,sehingga kita akan bersungguh-sungguh dalam hidup dan kehidupan ini.
2.   Meningkatkan Ketaatan kepada Allah swt dan Rasulullah saw
Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 97 yang berbunyi :
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam Keadaan Menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya : "Dalam Keadaan bagaimana kamu ini?". mereka menjawab: "Adalah Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para Malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?".orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,
Ayat diatas turun sehubungan dengan kasus lima orang pemuda muslim yang bergabung dengan kafir Makkah, lalu mati mengenaskan di perang badar oleh pasukan kaum muslimin.
3. Yakin dengan Pertolongan Allah swt.
Hijrah adalah rancangan dan strategi untuk melanjutkan perjuangan Dakwah Islam. Allah swt berfirman dalam surat Al-Anfal ayat 74 yang berbunyi :
Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman.mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.
Perjuangan yang dilalui Rosulullah dan para sahabat di Makkah tidaklah mulus dan ringan, tetapi jalan itu penuh onak dan duri, dan sangat berat sekali.Beliau dan kaum mukminin menerima berbagai cobaan, cercaan, teror, penyiksaan, propapaganda dan pembunuhan.Hal ini tidak hanya menimpa diri rosulullah, tetapi juga para sahabatnya. Kita tahu, kisah Bilal, keluarga Yasir (Yasir, Sumayah, Ammar bin Yasir), Abu Fakihah (budak Bani Abdid-Dar), Khabab bin Al-Art (budak Ummu Umar), dll.
4.   Memperkokoh Persaudaraan dan Persatuan
Berkenaan dengan peristiwa hijrah, rosulullah juga berhasil mempersatukan suku Aus dan Suku Kahraj yang sebelumnya saling bermusuhan. Mereka dipersatukan dengan dasar aqidah islam. Rosulullah juga mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshor. Persaudaraan ini semata-mata berdasarkan aqidah yang sama. Langkah ini untuk menegaskan, bahwa ikatan persatuan dan persaudaraan kaum muslimin haruslah berdasarkan aqidah, bukan berdasarkan kesukuan, kedaerahan, kemaslahatan, kebangsaan dan sebagainya yang bermuara pada ikatan kejahiliyahan.
Makna persaudaraan ini menurut Muahmmad Al-Ghazaly, agar fanatisme Jahiliyah menjadi cair dan tidak ada sesuatu yang dibela kecuali Islam.Disamping itu, agar perbedaan-perbedaan keturunan, warna kulit dan daerah tidak mendominasi, agar seseorang tidak merasa lebih unggul dan merasa lebih rendah kecuali karena ketaqwaanya.
5.  Mengoptimalkan Fungsi dan Peran Masjid
Langkah pertama yang dilakukan rosulullah adalah membangun masjid, Masjid yang dibangun bukan sekedar sebagai tempat sholat semata, tetapi juga sebagai madrasah tempat transfer ilmu dan bimbingan, sebagai balai pertemuan, tempat pelayanan social kemasyarakatan, pemberdayaan ekonomi umat dll, yang mencerminkan peran dan fusngsi masjid sesungguhnya. Maka unsure terpenting dari itu semua adalah pengurus dan jama’ah dalam arti pengurus berberan aktif menjalankan tugas dan amanahnya sebagai pengurus sesuai dengan kapasitasnya, dan jama’ah juga berperan aktif dalam pemakmuran masjid dalam bentuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh pengurus masjid dan bantuan dana.
Mereka yang berhijrah kala itu adalah Muslim yang tidak lagi memiliki tujuan apa-apa selain daripada rahmat Allah Ta’ala.
Hakekat Hijrah
Dalam hadith Nabi wa al-hijratu man hājara mā nahāhu Allah ‘anhu” dan disebut hijrah adalah berpindah dari apa-apa yang dilarang Allah terhadap manusia. Atau sebagaimana disinyalir oleh Iqbal dalam masterpiece puisinya “ berhenti, tak ada tempat di jalan ini. Sikap lamban berarti mati. Mereka yang bergerak, merekalah yang maju ke depan. Mereka yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas”. Maka noothing to loose, memaknai subtansi hijrah pada hakikatnya bercermin pada diri sendiri serta memaknai hidup dengan penuh motivasi dan idealisme.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah [2]: 218).
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. At-Taubah [9]: 20).
Momentum hijrah mampu memberi spirit yang menggedor kesadaran kita, guna mengisi kalbu dan mengasah reformasi sosial spiritual dalam jiwa kita, sehingga mampu melangkah dalam hidup ini menjadi lebih tegap, optimis, dinamis, dan produktif dari hari-hari sebelumnya. Dan tidak kalah penting hijrah dipandang sebagai starting point bagi bangsa kita untuk melakukan reformasi total untuk meluruskan arah dan membangun bangsa dari keterpurukan dan krisis multi dimensi ini. Karena hakekat hijrah merupakan transformasi dan reformasi sosial guna mampu melakukan yang terbaik dalam kehidupan personal maupun komunal dengan dinamika hidup secara optimal.Wallahu A’lam Bishowab
JAKARTA 22/10/2014
Baca Selengkapnya »»  

Senin, 20 Oktober 2014

HIJRAH: PERUBAHAN POSITIF





PESAN HIJRAH

الذين آمنوا وهاجروا وجاهدوا فى سبيل الله بأموالهم وأنفسهم أعظم درجة عند الله وأولئك هم الفائزون.
Artinya: Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.(Q.S. Attaubah:20)
Muqaddimah
Hijrah Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah merupakan peristiwa penting yang senantiasa dikenang oleh umat Muslim. Peristiwa itu hingga kini dijadikan tonggak penetapan penanggalan umat Islam. Di balik peristiwa itu, tentunya ada pelajaran yang dapat dipetik dan dipelajari untuk diterapkan dalam kehidupan sekarang ini. Selain dalam urusan sejarah, tata kemasyarakatan, ukhuwah, strategi, dan sebagainya dapat kita teladani dari peristiwa itu.
Maknanya sangat terkait dengan peristiwa Hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah pada tanggal 16 Juli 622M. Secara harfiah peristiwa itu sepertinya hanya suatu perjalanan fisik. Namun lebih dari itu Hijrah memiliki misi dakwah. Secara makna Islami itu merupakan fakta sejarah dalam memperbaiki kualitas kehidupan ummat Islam. Peristiwa itu juga merupakan tonggak kebangkitan Islam. Ketika sampai di Madinah, Rasulullah melakukan syiar Islam dengan cepat lewat masjid yang dibangunnya. Dari masjid itu Rasulullah mengembangkan jiwa umat dengan memperkuat akidah, ibadah, akhlak, keadilan, kesetaraan, persaudaraan dan berlomba-lomba melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Itulah fenomena lahirnya fondasi bangunan masyarakat madani.
        Di Madinah pulalah Rasulullah mendeklarasikan Piagam Madinah yang berdimensi politik, agama dan hukum. Dalam segi politik terdapat kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Negara dapat mengakomodasi semua kepentingan masyarakat tanpa membeda-bedakan berdasar suku, kelompok politik, maupun agama. Dari segi agama diatur hubungan penganut agama muslim dan non-muslim. Nabi Muhammad telah memberi contoh dengan tidak memaksakan seseorang dalam beragama. Sementara itu dari segi hukum, negara menerapkan prinsip keadilan. Semua masyarakat diperlakukan sama. Tidak ada perbedaan perlakuan berdasar stratifikasi sosial.
       Gambaran singkat prinsip-prinsip masyarakat madani dengan sumberdaya manusia (SDM) bermutu seperti itu belum tampak sepenuhnya terjadi di Indonesia. Kemiskinan, pengangguran, korupsi, kekerasan sosial, konflik horisontal dan vertikal, dan perbedaan perlakuan hukum masih sering terjadi. Indeks Pembangunan Manusia menurut versi UNDP pun menunjukan posisi Indonesia masih terpuruk. Maunya sih bangsa Indonesia segera berhijrah dari keterpurukan multidimensi ini. Bagaimana agar penerapan tatakelola yang baik dan pemerintahan bersih yang didukung SDM bersih perlu terus diupayakan secara taatasas untuk mencapai kondisi optimum.
       Untuk itu semangat madani seharusnya menjadi titik tolak untuk membangun masyarakat baru yang lebih beradab dan dipenuhi dengan kedamaian. Pengembangan SDM mulai di tingkat keluarga sampai nasional menjadi keharusan. Sistem kendali pembangunan efektif seharusnya menjadi prioritas pemerintah. Dalam kesempatan memasuki tahun baru Islam ini ada baiknya tiap umat Islam menelaah ulang kehidupan untuk berhijrah ke arah yang lebih baik lagi.
Nilai-Nilai Hijarah

Sekarang, perintah hijrah dari Makkah ke Madinah memang sudah tidak berlaku lagi. Tapi, perintah hijrah dalam dimensi lain masih berlaku dan akan terus berlaku hingga hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda: ''Tidak ada hijrah setelah fathu Makkah, tetapi yang ada adalah jihad dan niat.'' (HR Bukhari dan Muslim)Secara bahasa, hijrah berarti meninggalkan. Adapun secara istilah, maknanya sangat beragam. Makna yang paling umum, menurut Imam Nawawi, adalah meninggalkan larangan-larangan Allah. Hijrah dalam pengertian inilah yang berlaku hingga hari kiamat.

Berhijrah di jalan Allah (dalam semua dimensinya) mengandung keutamaan yang sangat agung. Allah berfirman: ''Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan, adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'' (Annisaa': 100)

Ibnu Katsir berkata ketika mengomentari ayat ini: ''Ayat ini mengandung sugesti (motivasi) agar berhijrah dan meninggalkan orang-orang musyrik.'' Ayat ini juga menjelaskan keutamaan berhijrah. Orang yang berhijrah karena Allah, akan mendapatkan garansi dan jaminan hidup dari Allah, di dunia dan di akhirat. Di dunia, ia akan dikaruniai keluasan rezeki. Sedangkan di akhirat, ia akan meraih pahala yang melimpah.
Menurut Ibnu Qayyim al Jauziyyah, hijrah terdiri dan dua jenis besar.
Pertama, hijrah fisik, berupa perpindahan fisik baik personal maupun massal dari satu daerah ke daerah lain.
Kedua, hijrah hati nurani. Hijrah ini tidak sekedar memerlukan perpindahan fisik, melainkan lebih pada orientasi niat dan aktifitas hati. Berhijrah dalam bentuk kedua ini adalah berangkat dari sesuatu yang haram menuju yang halal. Meninggalkan sesuatu yang syubhat menuju yang haq. Mencampakkan sesuatu yang bersifat kemaksiatan dan kekufuran menuju rahmat dan ridha llahi. Menjauhi segala bentuk kedzoliman menuju kemaslahatan dan keadilan. Mencegah yang munkar, menganjurkan yang ma’ruf.
Meninggalkan yang dilarang oleh Allah dan mengerjakan yang diperintahkan-Nya. Memusnahkan tradisi dan budaya Jahiliyyah menuju tradisi dan budaya Islamy. Sebagaimana keterangan sebuah Riwayat yang bersumber dan Sayyidah ‘Aisyah r.a yang menerangkan sebuah hadits Rasulullah SAW “bahwa sesudah penaklukkan Makkah tidak ada lagi hijrah, melainkan yang ada adalah Jihad dan niat” (H.R. Ahmad).
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan, bahwa yang kita perlukan dan harus kita lakukan adalah hijrah rohani dengan cara mengamalkan seluruh ajaran Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW dengan benar dan utuh serta menyeluruh, tidak setengah hari. Berjuang fi Sabilillah dengan harta dan pikiran, berbuat ihsan (kebajikan), melaksanakan semua perintah Allah dalam bentuk ibadah dan amal sholeh serta menjauhi semua yang dilarang oleh Allah SWT. Terakhir adalah menyegerakan tobat dan ingat mati. Dan yang tak kalah pentingnya dan makna hijrah bagi kita Ummat Islam saat ini adalah bagaimana sikap kita dalam memusnahkan tradisi dan budaya jahiliyyah dan kemudian melestarikan tradisi dan budaya yang Islami yang penuh ridho Allah SWT. Situasi batin yang demikianlah yang dirasakan oleh kaum Muslimin ketika berada dalam naungan Negara Madinah yang sepenuhnya tunduk kepada ketentuan Islam yang rahmatan lil ‘alamin itu.
Hijrah itu mempunyai kandungan nilai yang masih relevan hingga saat ini. Hijrah merupakan bentuk dari perjuangan penegakan kebenaran, perjuangan pemberdayaan, dan perjuangan perluasan syiar. Hijrah juga merupakan perwujudan dari perjalanan spiritual untuk menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupan. Pesanku, tingkatkan keimanan untuk menghadapi persoalan-persoalan kehidupan. Pesan ini bersifat universal, baik untuk momen Tahun Baru Hijriah maupun Tahun Baru Masehi.
Pelajaran Berhijrah
Mari kita kembali ke urat at-Taubah [9]: 20 di atas, tentang beberapa pelajaran dari peristiwa hijrah tersebut.
Pertama, Hijrah (هاجروا) dikaitkan dengan kata (آمنوا)  atau iman yang berarti bahwa hijrah harus dilakukan atas dasar iman. Keimanan adalah soal keyakinan, dan keyakinan itu ada di dalam hati. Maka, hijrah sesungguhnya menuntut keyakinan yang kokoh serta kebulatan hati bagi yang ingin menjalankannya. Sebab, hijrah bukanlah perkara mudah, banyak godaan, rintangan dan gangguan dalam mewujudkannya. Lihatlah nabi Muhammad dan para sahabatnya yang harus meninggalkan kampung halamannya, anak dan isterinya, rumah dan hartnya serta pekerjaannya yang tentu saja jika bukan karena keyakinan dan hati yang bulat maka itu tidak akan terlaksana. Begitu juga, hijrah secara personal yang menuntut keyakinan dan kekuatan hati yang penuh. Mislanya, seorang yang selama ini hidup dengan dosa, kemudian ingin berhijrah dari dosa itu dan menjadi orang salih. Maka, dia harus siap menghadapi cemoohan, ledekan temannya, kehilangan sahabat yang selama ini bersamanya atau bahkan juga akan kehilangan pekerjaannya. Jika dia tidak memiliki keyakinan yang kuat dan hati yang kokoh untuk berubah, maka hal itu tidak akan mungkin terlaksana.
Kedua,  hijrah dikaitkan dengan kata (وجاهدوا) atau berjuang yang berarti bahwa hijrah bukan untuk bersenang-senang, tetapi untuk hijrah adalah awal sebuah jihad atau perjuangan. Lihatlah apa yang dilakukan oleh nabi Muhammad dan para sahabatnya pada saat dan setalah hijrah ke Madinah. Mereka harus berhadapan dengan beragam intimidasi kaum Quraish, bahkan harus menghadapai beberapa peperangan besar setelah itu. Begitu juga, jika seseorang ingin hijrah atau merubah dirinya untuk mencapai sukses, maka perubahan itu akan menuntut perjuangan yang ektsra. Seseorang yang sebelumnya hidup malas, dan ingin merubah dirinya menjadi rajin, maka pastilah perubahan itu akan menuntut perjuangan yang keras.
Ketiga, jihad dikaitkan dengan (في سبيل الله) atau di jalan Allah yang menunjukan bahwa tidak semua hijrah dan jihad yang dilakukan manusia di jalan Allah. Seperti halnya sebagian sahabat nabi Muhammad yang hijrah karena ingin memperolah harta dan wanita di Madinah. Dalam kehidupan ini, juga banyak kita temui manusia yang berjuang dengan harta, jiwa dan bahkan nyawanya bukan untuk jalan Allah. Tetapi, untuk sesuatu yang bahkan boleh dikatakan sia-sia belaka. Lihat misalnya, sebagian anak muda yang rela mengucurkan uangnya jutaan rupiah dan menghabiskan tenaga untuk hanya berteriak dalam pertandingan sepak bola di sebuah stadion atau menonton konser seorang artis. Ada anak juga muda yang berjuang menghabiskan uang, waktu, dan tenaganya hanya untuk bermain game online dan seterusnya. Mereka semua berjuang, namun bukan di jalan Allah. Hanya perjuangan di jalan Allah saja yang akhirnya menjadikan seseorang atau sebuah masyarakat meraih kesuksesan
Keempat, Hijrah dan jihad dikaitkan dengan ( الاموال والأنفس) atau harta dan jiwa yang berarti bahwa hijrah dan jihad menuntut pengorbanan harta benda bahkan nyawa. Lihatlah yang dilakukan Ali yang bersedia mengorbankan nyawanya saat menggantikan nabi Muhammad tidur di tempatnya pada malam hijrah tersebut. Begitu juga Abu Bakar yang menghabiskan harta dan kekayaannya untuk hijrah bersama Rasulullah. Begitul juga dengan hijrah seseorang yang ingin merubah dirinya dan mencapai kesuksesan. Bahwa kesuksesan memang menuntut pengorbanan yang tidak sedikit, berupa harta, fikiran, perasaan bahkan juga pengorbanan secara fisik.
Demikian, semoga bermanfaat. Amin. 
Wallohu'alam bish showab.
Jakarta 21/10/2014
Baca Selengkapnya »»  

Kamis, 16 Oktober 2014

PENAWAR STRESS ?




STOP STREES DENGAN IMAN DAN DZIKIR  !
20 Gejala Utama Stress yang tiba-tiba muncul dan tidak diketahui sebabnya:
  1. Jantung sering berdebar tanpa sebab diketaui
  2.  Berkeringat-dingi atau merasa menggigil
  3. Ke toilet lebih sering dari biasanya
  4. Mulut terasa kering
  5. Sakit/ nyeri di perut bagian atas
  6. Mudah lelah walaupun mengerjakan pekerjaan yang ringan
  7. Merasa sakit seluruh otot badan yang tidak biasa
  8. Sakit kepala tanpa sebab
  9. Mudah tersinggung,
  10. Kurang rasa humor
  11. Kurang selera terhadap makanan, kesenangan ataupun seks
  12. Makan terlalu banyak atau terlalu sedikit tanpa disadari
  13. Kurang  punya waktu  menjalankan hobi/ kebiasaan
  14. Merasa tidak mampu mengatasi permasalahan apapun”
  15. Kurang tertarik berkomunikasi dengan orang lain, selalu menghindar
  16. Kurang percaya  terhadap penampilan diri
  17. Merasa segala sesuatu tidak berguna
  18. Selalu merasa kehilangan dan sedih
  19. Pelupa
  20. Sulit tidur, tidur tidak nyaman dan mudah terbangun, bangun merasa tidak segar (Disalin dari gejalastress.wordpress.com)
{ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (28) }ARRA’DU
ويهدي الذين تسكن قلوبهم بتوحيد الله وذكره فتطمئن، ألا بطاعة الله وذكره وثوابه تسكن القلوب وتستأنس.ALMUYASSAR.4/239
وقوله تعالى في الآية ( 8 ) { الذين آمنوا وتطمئن قلوبهم بذكر الله } أولئك الذين أنابوا اليه تعالى إيماناً وتوحيداً فهداهم إليه صراطاً مستقيماً هؤلاء تطئمن قلوبهم أي تسكن وتستأنس بذكر الله وذكره وعده وذكر صالحي عباده محمد ??? ???? ???? ???? وأصحابه ، وقوله تعالى : { ألا بذكر الله تطمئن القلوب } اي قلوب المؤمنين اما قلوب الكافرين فإنها تطمئن لذكر الدنيا وملاذها وقلوب المشركين تطمئن لذكر أصنامهم ، وقوله تعالى { والذين آمنوا وعملوا الصالحات طوبى لهم وحسن مآب } إخبار من الله تعالى بما أعد لأهل الإيمان والعمل الصالح وهو طوبى حال من الحسن الطيب يعجز البيان عن وصفها أو شجرة في الجنة وحسن منقلب وهو الجنة دار السلام والنعيم المقيم .AISARUT TAFASIR.2/248
قومٌ اطمأنت قلوبُهم بذكرهم الله ، وفي الذكر وَجَدُوا سَلْوَتَهم ، وبالذكر وصلوا إلى صفوتهم . وقومٌ اطمأنت قلوبُهم بذكر الله فَذَكَرَهُمْ الله - سبحانه - بلطفه ، وأَثْبَت الطمأنينةَ في قلوبهم على وجه التخصيص لهم .
ويقال إذا ذكروا أَنَّ الله ذَكَرَهم استروحت قلوبُهم ، واستبشرت أرواحُهم ، واستأنست أسرارُهم ، قال تعالى : { أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ القُلُوبُ } لِمَا نالت بِذِكْرِهِ من الحياة ، وإذا كان العبدُ لا يطمئن قلبُه بذكر الله ، فذلك لِخَللٍ في قلبه ، فليس قلبه بين القلوب الصحيحة .ALQUSYAIRY.4/9
{ الذين آمنوا } بدل من قوله من أناب { وتطمئن قلوبهم } يعني وتسكن قلوبهم { بذكر الله } قال مقاتل : بالقرآن لأنه طمأنينة لقلوب المؤمنين والطمأنينة والسكون إنما تكون بقوة اليقين ، والاضطراب إنما يكون بالشك { ألا بذكر الله تطمئن القلوب } يعني بذكره تسكن قلوب المؤمنين ويستقر اليقين فيها .
وقال ابن عباس : هذا في الحلف وذلك أن المسلم إذا حلف بالله على شيء سكنت قلوب المؤمنين إليه . فإن قلت أليس قد قال الله تبارك وتعالى في أول سورة الأنفال { إنما المؤمنين الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم } والوجل استشعار الخوف ، وحصول الاضطراب وهو ضد الطمأنينة فكيف وصفهم بالوجل والطمأنينة وهل يمكن الجمع بينهما في حال واحد . قلت : إنما يكون الوجل عند ذكر الوعيد والعقاب الطمأنينة ، إنما تكون عند الوعد والثواب فالقلوب توجل إذا ذكرت عدل الله وشدة حسابه وعقابه وتطمئن إذا ذكرت فضل الله ورحمته وكرمه وإحسانه .ALKHAZIN.4/86-87
وقوله:(وتطمئن قلوبهم بذكر الله) ، يقول: وتسكن قلوبهم وتستأنس بذكر الله، (2) كما:-
20358- حدثنا بشر قال: حدثنا يزيد قال: حدثنا سعيد، عن قتادة، قوله:(وتطمئن قلوبهم بذكر الله) يقول: سكنت إلى ذكر الله واستأنست به .
وقيل: إنه عنى بذلك قلوب المؤمنين من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم .
ذكر من قال ذلك:
20359- حدثنا الحسن بن محمد قال: حدثنا شبابة قال: حدثنا ورقاء، عن ابن أبي نجيح، عن مجاهد قوله:(ألا بذكر الله تطمئن القلوب) لمحمد وأصحابه .
20360- حدثني المثنى قال: حدثنا أبو حذيفة قال: حدثنا شبل (1) =
20361- وحدثني المثنى قال: حدثنا إسحاق قال: حدثنا عبد الله، عن ورقاء= عن ابن أبي نجيح، عن مجاهد:(ألا بذكر الله تطمئن القلوب) قال: لمحمد وأصحابه .
20362- ... قال: حدثنا إسحاق قال: حدثنا أحمد بن يونس قال، حدثنا سفيان بن عيينة في قوله:(وتطمئن قلوبهم بذكر الله) قال: هم أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم .ATHABARI.16/432-433
{ الذين أمنوا } خبر مبتدأ محذوف أي : هم الذين آمنوا ، أو منصوب على المدح { وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ الله } أي : تسكن وتستأنس بذكر الله سبحانه بألسنتهم ، كتلاوة القرآن ، والتسبيح ، والتحميد ، والتكبير ، والتوحيد ، أو بسماع ذلك من غيرهم ، وقد سمي سبحانه القرآن ذكراً قال : { وهذا ذِكْرٌ مُّبَارَكٌ أنزلناه } [ الأنبياء : 50 ] ، وقال : { إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذكر } [ الحجر : 9 ] . قال الزجاج : أي إذا ذكر الله وحده آمنوا به غير شاكين بخلاف من وصف بقوله : { وَإِذَا ذُكِرَ الله وَحْدَهُ اشمأزت قُلُوبُ الذين لاَ يُؤْمِنُونَ بالآخرة }
[ الزمر : 45 ] وقيل : تطمئن قلوبهم بتوحيد الله ، وقيل : المراد بالذكر هنا : الطاعة ، وقيل : بوعد الله ، وقيل : بالحلف بالله ، فإذا حلف خصمه بالله سكن قلبه ، وقيل : بذكر رحمته ، وقيل : بذكر دلائله الدالة على توحيده { أَلاَ بِذِكْرِ الله } وحده دون غيره { تَطْمَئِنُّ القلوب } والنظر في مخلوقات الله سبحانه وبدائع صنعه وإن كان يفيد طمأنينة في الجملة ، لكن ليست كهذه الطمأنينة ، وكذلك النظر في المعجزات من الأمور التي لا يطيقها البشر ، فليس إفادتها للطمأنينة كإفادة ذكر الله ، فهذا وجه ما يفيده هذا التركيب من القصر .
FATHUL QADIR.4/109-110.(2014).
STRESS merupakan salah satu jenis gangguan jiwa ringan yang biasa dialami oleh siapa saja. Mulai dari anak-anak, remaja, orang tua tentunya dengan kadar gangguan yang berbeza-beza antara satu dengan yang lain.

Sama halnya dengan penyebab timbulnya stress, pun berbeza-beza. Seorang remaja mengalami stress kerana kesulitan belajar atau putus cinta. Orang tua merasai stress kerana memikirkan tingkah dan sikap anak-anaknya yang susah diatur. Bahkan, ada juga seseorang itu mengalami stress berat hanya kerana haiwan peliharaan kesayangannya mati.

Dalam Islam, stress merupakan penyakit jiwa yang perlu diubati dengan pendekatan yang tercantum dalam Al-Quran dan Hadith. 


Berikut antara Tips Merawat Stress Cara Islam 

1.Tanamkan jiwa yang sabar

“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik (syurga) dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Surah An-Nahl 16 : 96)

2. Selalu Mensyukuri Nikmat Allah

“…Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua ibubapamu…”. (Surah Lukman 31 : 14).


Dalam salah satu hadis, Rasulullah saw bersabda,

“Orang yang tidak mahu berterimakasih kepada manusia, ia tidak akan bersyukur kepada Allah SWT.”
3. Menumbuhkan Jiwa yang Optimis

”Janganlah kamu bersikap lemah (pesimis), dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamu adalah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (Surah Ali Imran 3 : 139).

4.Selalu Berdoa Kepada Allah SWT

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Surah Al-Baqarah 2 : 286)

5. Menjaga solat fardu lima waktu dan memperbanyakkan SOLAT SUNAT

“Wahai sekalian orang-orang yang beriman! Mintalah pertolongan dengan bersabar dan dengan (mengerjakan) sembahyang; kerana sesungguhnya Allah menyertai (menolong) orang-orang yang sabar.”

(Al Baqarah 153)
6. Amalan berzikir seperti bertakbir, bertahmid, bertasbih dll.

‘(Iaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan zikrullah". Ketahuilah dengan "zikrullah" itu, tenang tenteramlah hati manusia.'
(Surah Ar-Ra’d Ayat 28)
BY ABI AZMAN (16/10/2014)

Baca Selengkapnya »»